Urgensi Pengetahuan Pertambangan

                   Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi kaya raya dengan keadaan alamnya yang luar biasa mulai dari sektor  pertanian, perkebunan, perhutanan, kelautan serta pertambangan. Tak ayal julukan zamrud khatulistiwa disandangkan kepadanya. Dengan potensi yang demikian besar itu, sudah sepatutnya generasi bangsa tidak acuh dengan hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi. Di Perguruan Tinggi misalnya jurusan seperti, pertanian, perkebunan dan lainnya yang mengarah pada pengolahan bumi Indonesia juga patut diperhitungkan untuk dipel ajari. Kenyataan bahwa jurusan-jurusan tersebut sepi peminat jika dibandingkan dengan jurusan yang mengarah pada profesi kedokteran, keguruan dan lainnya, perlu menjadi bahan evaluasi. Jelas sangat eman jika potensi alam yang demikian luar biasa itu dibiarkan begitu saja tanpa pengolahan yang tepat sehingga bernilai dan berdaya guna.

            Kekayaan alam yang saat ini jarang diperhatikan masyarakat dalam pengolahannya namun sering menimbulkan permasalahan adalah dalam bidang pertambangan. Dimana dalam Wikipedia disebutkan sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, migas). Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) tak jarang sering meresahkan masyarakat, hingga akhirnya sampai dikaitkan dengan kondisi perpolitikan. Padahal jelas ada sebab yang lebih mungkin mengapa BBM mengalami kenaikan harga yakni karena kelangkaan. Selain BBM, masih ada hasil bumi lain yang diolah melalui industri pertambangan, yakni berupa logam yang dihasilkan PT Newmont Nusa Tenggara misalnya berupa emas. Serta bahan tambang lain yang juga diproduksi industri tambang lain seperti perak, timah, baja dan lain sebagainya. Ketika sudah diproduksi, nilai dari logam-logam tersebut terbilang cukup tinggi. Meski bukan menempati kebutuhan primer masyarakat, logam tersebut terbukti banyak digunakan dalam menunjang kehidupan bermasyarakat.

            Terkadang cukup ironis juga ketika kita berfikir, bagaimana bisa di negeri yang katanya kaya-raya, gemah ripah loh jinawi ini, lebih banyak dihuni oleh mereka yang perekonomiannya menengah kebawah. Padahal seharusnya tidak demikian. Tidak sedikit yang melontarkan pernyataan bahwa Indonesia adalah negara yang alamnya kaya-raya, namun tidak bisa mengolahya sendiri atau tidak punya sarana-prasarana yang memadai untuk pengolahan tersebut. Akhirnya posisi pengolahan ini diambil oleh piihak asing. Namun rupanya ada pula sebagian masyarakat yang terlalu sensitif dengan pihak asing yang sering kecewa dan menyalahkan tindakan tersebut.

            Pertambangan bukanlah Industri tanpa adanya resiko. Justru sangat rentan sekali dengan resiko kerusakan alam, terutama di area pertambangan tersebut. Salah satu perusahaan tambang yang mempedulikan pengelolaan lingkungan adalah PT Newmont. Menurut keyakinan mereka, pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab dan kinerja lingkungan terdepan merupakan bagian yang tak terpisahkan untuk menjadi perusahaan yang efektif dan sukses. Saat ini PTNNT (PT Newmont Nusa Tenggara) telah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001. SML adalah merupakan bagian dari kegiatan operasi, hal ini ditunjukkan antara lain melalui keberadaan standar kinerja bidang pengelolaan lingkungan. Standar kinerja tersebut antara lain pengelolaan hidrokarbon, pengelolaan bahan kimia, pengelolaan tailing, pengelolaan batuan sisa, pengelolaan limbah, pengelolaan air, pengelolaan kualitas udara, dan rencana penutupan dan reklamasi tambang. (Website Newmont).

            Dengan pemaparan diatas, masyarakat tidak bisa dengan seenaknya menganggap pertambangan tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Buktinya telah ada pada PT Newmont sebagai salah satu perusahaan tambang terbaik di Indonesia. Diantara yang perlu dimiliki masyarakat sekarang, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa adalah pengetahuan pertambangan. Melalui pengetahuan ini, setidaknya meski tidak terjun langsung, masyarakat bisa mengerti akan keadaan pertambangan di Indonesia sebagai salah satu sumber kekayaan buminya. Sehingga tidak tersebar kesalahpahaman yang terus berkelanjutan atas keberadaan perusahaan tambang.

            Jika pengetahuan telah didapatkan, akan mudah bagi masyarakat untuk turut berperan serta, bekerjasama, sekaligus bertanggungjawab atas adanya pertambangan. Solusi atas persoalan publik yang ada kaitannya dengan pertambangan, seperti kelangkaan pun akan bisa dipikirkan bersama. Tidak melulu menyalahkan pemerintah sebagai pengambil kebijakan atau perusahaan sebagai pihak pemroduksinya. Dengan demikian, akan tercipta lingkungan yang kondusif dimana semua orang lebih berfikir solusi daripada menyalahkan. Sebab di tengah masalah, menyalahkan tidak lain malah menjadi tambahan masalah yang menyebakan persoalan menjadi semakin besar dan rumit

            Pengetahuan pertambangan dari PT Newmont sebagai korporasi pertambangan yang peduli lingkungan, sangat urgen diberikan kepada generasi muda Indonesia dari kalangan manapun. Tidak lain setelahnya diharapkan bisa menyebarkan pengetahuan serta informasi yang didapatkannya kepada masyarakat secara luas. Dengan energi dan semangat muda yang dimiliki, tidak akan terlalu sulit bagi mereka untuk melakukan usaha tersebut. Selain dengan pengetahuan pertambangan yang dimiliki generasi muda Indonesia, nantinya diharapkan mereka bisa berperan aktif mengolah hasil bumi negeri tercinta ini. Mengolah dengan baik dan benar bukannya mengeksploitasi besar-besaran. Sehingga akhirnya dengan pertambangan negeri kita bisa kaya raya.

            Mata masyarakat harus terbuka dengan kekayaan alam Indonesia. Demikian juga dengan pikirannya harus terbuka untuk menerima pengetahuan pengolahan alam yang ada. Terutama di sektor pertambangan yang memiliki nilai begitu besar. Dengan begitu, cita-cita untuk hidup makmur di tanah sendiri bisa tercapai.

Nafisatul Husniah, Aktivis Laskar Ambisius UIN Sunan Ampel Surabaya

Catatan Mingguan (27 Januari – 2 Februari 2013)

            Kian hari kontrakan Laskar Ambisius kian ramai kembali, teman-teman yang pulang kampung sudah mulai berdatangan. Ada Ainah dan Millah dari jurusan PAI yang  akan mengurus pemrograman mata kuliah nya. Ada pula Mbak Riska yang datang dari tempat KKN nya di pelosok Madiun sana, untuk ujian skripsi, ujian yang mau tidak mau wajib dihadapi calon sarjana. Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, yang menyelesaikan kuliahnya tujuh semester kini telah siap menyandang gelar sarjana setelah dinyatakan lulus dari ujian skripsi hari itu (27/1).

            Sore hari masih di tanggal 27 Januari, kami berenam yang telah tiba dikontrakan begegas menyiapkan diri untuk segera berangkat ke Sheraton Hotel Surabaya. Di sana ada pameran studi ke Australia dari IDP yang nampaknya membuat kami tertarik untuk mengunjunginya. Tidak seperti bayangan sebelumnya, pameran ini relatif lebih kecil dari yang pernah kami hadiri di Grand City misalnya. Di sana kami sempat mengikuti seminar tentang pendidikan di Australia meskipun sedikit terlambat. Kami peserta seminar diberi tahu tentang bagaimana pendidikan di Australia dan beasiswa-beaiswa yang bisa dilamar untuk melanjutkan studi di sana. Tidak ketinggalan juga disampaikan trik-trik agar lolos dalam seleksi beasiswa tersebut dari orang-orang Indonesia yang telah berkuliah disana. Untuk itu semua, banyak sekali yang perlu dipersiapkan terutama dalam penguasaan Bahasa Inggris sebagai bahasa yang digunakan dalam perkuliahan dan percakapan sehari-hari di negeri kanguru itu. Untuk dapat lolos dalam seleksi beasiswa tersebut akan lebih baik jika pelamar mempunyai karya tulis ilmiah yang dipublikasikan. Karena itu ada satu pesan yang saya ingat sampai sekarang bahwa ketika kita diminta dosen untuk membuat karya tulis ilmiah untuk dikumpulkan pada dosen maka “jangan mengumpulkan sampah”.

            Besoknya hari Selasa, 28 Januari ternyata saya masih juga belum beruntung menghuni kolom argumentasi kompas-kampus koran nasional kompas. Ada rasa kecewa sebenarnya ketika sangat berharap dimuat tapi kenyataan tak sesuia dengan yang diharapkan. Sayapun akhirnya mengirim kembali tulisan-tulisan lain yang belum dimuat di media dan mengedit beberapa yang saya kira perlu ada perbaikan.

            Seperti yang telah saya rencanakan malamnya, pagi ini pukul 05.30 saya dan seorang teman dari kontrakan bergegas menuju kampus. Tempat yang kami pilih akhirnya adalah di gazebo Fakultas Ushuluddin. Selain memperbaiki tulisan dan mengirimkannya ke media menggunakan jasa wifi kampus, saya juga sempat mendownload beberapa video yang saya kira menarik untuk ditonton. Diantaranya video tayangan Mata Najwa di UNS yang bertajuk “Penebar Inspirasi”, selain itu juga video ketika Najwa Shihab bersama Angel Lelga. Program TV seperti ini saya kira cukup menarik dan menambah wawasan untuk ditonton daripada sinetron-sinetron cinta yang kadang penuh dilema atau karakter-karakter licik yang dimainkan pemerannya.

            Hari selanjutnya, pagi-pagi benar saya menuju ke kampus, berbeda dengan kemarin yang hanya berdua, kali ini saya bertiga denga teman dari kontrakan juga. Kami mengambil tempat di gazebo dekat perpustakaan yang saat itu masih sepi, meski selanjutnya mahasiswa lain mulai berdatangan. Kabar gembira datang dari Harian Umum Duta Masyarakat, tulisan yang saya kirimkan kemarin dengan judul “Imlek dan Semangat Pluralisme” dimuat disana pada hari tersebut. Alhamdulillah. J

            Dengan jadwal keberangkatan kereta api menuju Mojokerto pukul 11.00 dari stasiun Wonokromo, saya tidak bisa berlama-lama intearnetan di kampus.  Saya bersama ke lima orang teman segera menuju ke Stasiun Wonokromo dengan cukup tergesa-gesa karena takut ketinggalan kereta api. Di Gerbong lima akhirnya kami masuk dan mendapatkan tempat duduk sesuai yang tertera pada tiket. Berbeda denga gerbong lainnya, gerbong lima terasa lebih sesak karena banyak nya orang. Bagi mereka yang tiketnya tanpa tempat duduk pasti memilih untuk masuk ke gerbong paling belakang tersebut, inilah penyebabnya mengapa begitu terasa sesak dibandingkan yang lainnya.

            Ada kesalahan yang membuat saya sendiri begitu emosi ketika itu. Tidak lain karena rute yang ditunjukkan untuk sampai pada alamat seorang teman di Mojokerto sangat tidak jelas. Informasi yang didapatkan awalnya kami harus turun di stasiun Krian kemudian oper dua len untuk sampai di rumahnya. Tiba-tiba saja kami mendapat informasi bahwa turunnya yang benar bukan di Staiun Krian tetapi Stasiun Mojokerto. Sedangkan tiket kereta yang kami beli hanya sampai di Krian. Akhirnya mau tidak mau kami tetap di kereta untuk sampai di Mojokerto meskipun dengan berdiri karena sudah diusir dari tempat duduk mulai di Krian. Saya bertambah kesal lagi ketika mendapatkan informasi selanjutnya bahwa kami harus oper 3 kali, yang pertama kami harus naik angkutan menuju terminal Mojokerto.  Sayapun sempat menggerutu, kalau tahu akhirnya harus ke terminal Mojokerto, lebih baik kan saya naik bus saja dari Surabaya. Meskpun merasa kesal akhirnya kami berenam memilih saja untuk menikmati perjalanan ini, tentu dengan tetap semangat dan keceriaan.

            Setelah bergonta-ganti kendaraan umum, akhirnya sampai juga kami di lokasi yang dituju, tidak sampai kesusahan mencarinya karena sopir angkutan yang kami tumpangi rupanya tahu alamat yang kami tuju. Di rumah Mbak Fitri Dewi Andani akhirnya kami bisa beristirahat sebentar dan kemudian melaksanakan kegiatan peringatan maulid nabi kecil-kecilan yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Harusnya saat ini kami berdua belas tetapi, karena ada sedikit kesalahpahaman informasi, dua orang diantara kami belum bisa sampai dan yang satunya memang tidak bisa terkait dengan kegiatan KKN yang ditugaskan padanya.

            Baru ketika paginya datang satu orang lagi hingga akhirnya kami yang awalnya bersembilan menjadi bersepuluh. Setelah bersih diri dan sarapan, pagi itu kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah di wilayah Mojokerto. Ada tiga candi yang telah kami abadikan dalam potretan kamera, yang kesemuanya merupakan peninggalan dari kerajaan Majapahit. Tidak ketinggalan kami juga mengunjungi Pemakaman Troloyo di mana Syekh Jumadil Kubro dimakamkan. Ziarah kubur juga menjadi agenda kami dalam kunjungan kali ini. Setelah dari makam, kami segera menuju tempat peribadatan umat Budha yakni Vihara. Disana ada satu patung yang begitu menarik pengunjung untuk melihatnya, bahkan mungkin merupakan tujuan utama pengunjung datang kesana, yakni patung Budha Tidur, yang merupakan patung Budha terbesar ke tiga di dunia.

            Malamnya kami menginap di daerah pacet yang cukup atas, tepatnya di kediaman Kakek Mbak Fitri. Karena mobil yang kami tumpangi mogok di pertengahan jalan akhirnya kami baru sampai di sana menjelang malam hari diiringi dengan guyuran air hujan yang tak juga berhenti. Perjalanan terasa begitu mencekam, disamping keadaan mobil yang sudah tidak terlalu baik lagi dan kondisi alam mulai gelap diikuti pula dengan ketebalan kabut yang membuat jalan terlihat tidak terlalu jelas. Pemandangan indah alam di sekeliling kami pun sudah tak terlihat lagi, karena kabut tebal yang menyelimuti. Luar biasa baru pertama kali saya mengalami keadaan yang seperti ini.

            Setelah keadaan sudah cukup baik dan semua sudah siap, kami langsung melaksanakan kegiatan akhir bulan. Karena saat ini waktu liburan kampus, sebagian dari kami sudah lumayan lama tak bertemu sehingga diskusi malam itu terasa begitu hangat dan menyenangkan. Banyak kisah yang diuraikan sebagai refleksi kehidupan dalam sebulan ini yang penuh makna dan pelajaran berharga. Disinilah tempat kami berbagi meski tak berwujud materi namun kandungannya jauh lebih berarti. Dari diskusi akhir bulan ini pula semangat hidup utuk bulan depan semakin tumbuh dan berkobar. Di tengah masalah yang dihadapi setiap orang, semangat kami harus tetap berkobar untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

            Berbeda dengan teman-teman lainnya yang kembali ke Surabaya setelah acara, saya memilih untuk pulang ke kampung halaman. Dari terminal Mojokerto akhirnya saya menuju Kediri dengan bus jurusan Surabaya-Tulungagung lewat Pare. Tidak biasanya saya menggunakan bus ini karena jumlahnya yang sangat sedikit yakni 1 dibanding 5 dengan bus serupa yang lewat Kertosono. Dengan menggunakan bus yang lewat Pare saya pun tak perlu meminta dijemput di tempat perhentian bus. Karena berhentinya lumayan dekat dengan rumah saya, tidak seperti bus yang lewat Kertosono. Kedatangan saya ke rumah yang tiba-tiba membuat orang-orang di rumah kaget karena tanpa mengabarkan dulu. Meskipun kaget saya rasa itu sebuah kejutan. Kejutan yang tentu tidak begitu besar. Tapi bukankah kedatangan anak dari perantauan adalah suatu kebahagiaan bagi orang tua? Setidaknya itulah yang terjadi.

            Meski tercatat sebagai panitia dalam kegiatan Training Of Trainer yang diadakan PC IPNU-IPPNU Kab. Kediri, saya tidak bisa membantu sebagaimana seharusnya di sana. Kegiatan sudah berlangsung sejak tanggal 31 Januari, tetapi saya baru bisa datang pada tanggal 2 Februari. Itupun karena diajak oleh seorang sahabat yang ada kepentingan untuk datang di kegiatan tersebut. Bisa datang di kegiatan tersebut bagi saya merupakan sebuah kebahagiaan. Meskipun disisi lain saya merasa sungkan juga karena tidak bisa membantu apa-apa. Kesempatan yang jarang sekali, saya mendapat banyak nasehat dari Bapak Yusuf Darmanto yang merupakan guru saya juga. Bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau sore itu, dan mengambil banyak sekali pelajaran kehidupan adalah suatu hal yang luar biasa. Semoga saya bisa mengamalkan ilmu yang telah saya pelajari selama ini, dan selanjutnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat. Amiin.

 

Nafisatul HusniahGambar

 

Kediri, 3 Februari 2014

           

 

           

Catatan Mingguan (20 – 26 Januari 2014)

            Rencana awalnya, setelah acara di Surabaya Town Square (Sutos) selesai, besok paginya saya akan segera pulang kampung. Tiket pun sudah saya beli pada tanggal 19 kemarin. Kali ini saya merencanakan pulang bersama teman saya yang juga dari Kediri. Namun mendekati jadwal keberangkatan saya mengurungkan untuk ke Kediri, tentunya bukan tanpa alasan. Di Surabaya saya bersama seorang teman dari Lamongan dan hari selanjutnya bertambah lagi satu orang hingga akhirnya sampai lima orang.

            Waktu di Surabaya ini saya pergunakan untuk belajar kembali menekuni dunia kepenulisan, setiap hari harus ada tulisan yang saya hasilkan. Beberapa buku maupun surat kabar juga saya usahan untuk membacanya. Beberapa hari di rumah saat pulang kampung dua minggu sebelumnya membuat saya semakin sadar siapa saya. Dan mengapa saya harus bertahan di kota ini dengan terus berusaha selangkah demi selangkah. Saya benar-benar ingin mengembalikan semangat untuk bangkit yang sebelumnya luntur begitu saja.

            Alhamdulillah dalam minggu ini ada dua tulisan saya yang dimuat di media, yakni di Radar Surabaya dengan judul “Akademisi dan Literasi” dan di Serambi Indonesia dengan judul “Bencana, Solidaritas dan Politik”. Keduanya itu memberikan bukti pada saya bahwa ketidakpulangan pada minggu ini bukanlah hal yang sia-sia meskipun itu sebenarnya masih belum ada separuh dari target saya untuk bulan ini dan lebih sedikit dari tulisan yang sudah saya buat. Saya pun semakin yakin bahwa selama mau berusaha dengan sungguh-sungguh pasti ada hasil yang didapatkan. Semangat saya untuk menulis, semakin menggebu.

            Di malam hari saya juga sempat membantu anak-anak tetangga sebelah rumah untuk belajar. Biasanya mereka setiap sehabis maghrib memang ke kontrakan untuk belajar dengan teman saya, bukan saya. Tapi karena kali ini dia masih pulang kampung akhirnya saya menjadi target mereka untuk mengajari beberapa materi yang tidak dipahaminya, selain itu juga membantu pekerjaan rumah yang diberikan gurunya. Awalnya hanya satu orang namun bertambah menjadi 3 orang yang semuanya beda tingkat kelasnya. Ada yang kelas 2 SD, kelas 3, dan satunya lagi kelas 4. Sayapun merasa bahwa belajar bersama dengan ke tiganya sekaligus tiddak lah mudah. Karena mereka masih anak-anak ada saja hal-hal lain yang dilakukannya selain belajar. Sayapun jadi teringat dengan ke tiga adik saya di rumah, yang mungkin sekarang juga tengah belajar.

            Tanggal 24 Januari saya mendapatkan kabar wafatnya salah satu ulama besar Indonesia yakni KH. MA. Sahal Mahfudz. Beliau merupakan Rois Aam PB NU, yang menurut saya merupakan sosok Kiai yang hebat. Bagaimana tidak, meskipun beliau dari kecilnya hidup di lingkungan kaum pesantren tetapi pemikirannya luar biasa. Keilmuannya di bidang Fiqih tidak bisa kita remahkan begitu saja. Bahkan karena pemikirannya yang luar biasa di bidang tersebut, beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu kekaguman saya juga karena beliau adalah sosok ulama yang produktif menulis. Selamat jalan Kiai Sahal menuju tempat lebih indah di sisiNya. Amiin.

 

Nafisatul Husniah

Surabaya, 29  Januari 2013Gambar

Catatan Mingguan (13 – 19 Januari 2014)

            Selama di kampung halaman di Kediri, tak ada yang saya kunjungi untuk kegiatan atau sekedar bermain-main saja. Cukup di rumah saja, dengan aktivitas seadanya. Dengan begini rindu pada keluarga terobati dengan tuntas tidak seperti biasanya yang ketika pulang tetap sering keluar. Meski di sisi lain ada rasa kesepian juga dengan tidak adanya kegiatan apapun di luar yang bisa saya ikuti.

            Sebenarnya ada aktivitas yang begitu menggiurkan, yang saya pun telah berencana untuk turut berpartisipasi bersama dengan sahabat saya di kampung halaman. Sayangnya, sedikit ada kesalahan sehingga saya urung berangkat dan memilih untuk pergi ke stasiun Kediri saja untuk membeli tiket. Rasa kecewa itulah yang benar-benar muncul awalnya, kecewa yang sangat. Hingga keberangkatan ke Surabaya pun masih diliputi rasa itu. Tapi apa daya, semua telah terjadi dan nyatanya saya tidak berbuat apa-apa dan melewatkannya begitu saja. Tak ada hal lain yang dapat diambil selain berusaha mengambil pelajaran dari semua itu tentunya diimbangi dengan bersikap yang lebih baik.

            Hari ini 15 Januari 2013 saya kembali meninggalkan Kediri dan berangkat ke Surabaya menggunakan jasa kereta api lokal dengan jadwal keberangkatan pukul 11.36 WIB. Jika kemarin ketika pulang saya mendapatkan tiket berdiri, kali ini tidak. Saya bisa dengan nyaman duduk di kursi yang sesuai dengan tiket kereta. Berdampingan dengan seorang nenek yang juga menuju kota Surabaya. Meski awalnya dari Kediri saya berangkat sendirian, sampai stasiun Jombang, ada teman yang menemani yaitu yang dulu pulang bersama saya, yang sebenarnya dia salah gerbong.

            Sesuia dengan tujuan saya kembali ke Surabaya di waktu liburan ini adalh untuk latihan teater, malam hari, saya dan teman-teman yang tergabung dalam kelompok teater AMBISI mulai berlatih di kampus kami tercinta, tepatnya di depan gedung fakultas dakwah. Saya yang awalnya cukup ragu dan canggung untuk ikut bergabung dengan mereka lama kelamaan merasa nyaman juga. Mungkin karena kami sebelumnya sudah saling kenal dan latihannya tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya.

            Tidak hanya malam hari, kami juga melakukan latihan di kampus, siang atau sore. Latihan yang benar-benar menguras tenaga karena kami harus jalan kaki ke kampus tapi cukup menyenangkan juga. Perasaan senang itulah yang membuat kami terus bersemangat berlatih untuk menampilkan yang terbaik yang kami mampu. Sesekali kami juga berlatih di luar kampus dan ketika itu yang menjadi pilihan kami adalah tempat wisata Kenjeran. Baru pertama ini saya berkunjung ke tempat tersebut. Dan rupanya bayangan saya terlalu berlebihan hingga timbul sedikit kecewa setelah sampai di sana. Untung nya tetap ada tempat yang bisa digunakan untuk latihan dan lumayan nyaman juga.

            Latihan terkakhir kami selanjutnya bertempat di depan gedung fakultas Adab di temani dengan rintik hujan malam hari itu. Latihan sama dengan tampil, tampil sama dengan latina itulah yang disampaikan pelatih kami saat itu. Tak berbeda dengan yang pernah saya terima dari pelatih saya di rebana dulu. Saya pun juga teringat dengan kata beliau dulu, bahwa dimanapun latihan itu pasti lebih baik dari pada tampil. Karena itu ketika latihan harus bisa berusaha sebaik mungkin.

            Sore itu kami akhirnya tampil juga di Epicentrum Surabaya Town Square. Sayangnya lagi-lagi tidak sesuai dengan harapan. Banyak fasilitas yang seharusnya ada tetapi tidak ada, kami pun seakan hanya bermain-main sendiri di depan panggung. Entah apakah orang yang sempat melihat kami tahu maksud dialog yang kami sampaikan atau tidak. Yang jelas sangat banyak kekurangan dari penampilang saat itu. Banyak sekali, dan terlalu banyak untuk dsebutkan satu per satu. 😀

            Setelah menuntaskan tanggungan untuk ikut bersama tim teater, cukup sudah urusan saya di Surabaya. InsyaAllah besok saya akan kembali pulang ke Kediri dengan tiket kereta api yang sudah saya beli hari sebelumnya. Semangat!

 

Nafisatul Husniah

Surabaya, 22 Januari 2014

           

Catatan Mingguan (6 – 12 Januari 2014)

Gambar            Minggu ini merupakan minggu terakhir dilaksanakannya UAS untuk semester gasal di tahun ajaran 2013 – 2014 yang berakhir pada 9 Januari 2014. Setelahnya dilanjutkan liburan yang berlangsung cukup panjang. Jelasnya kami mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya baru masuk lagi kuliah pada tanggal 4 Maret 2014. Selama UAS saya benar-benar menerapkan prinsip egois pada jawaban-jawaban saya terhadap soal. Egois di sini bukan berarti saya acuh terhadap apa-apa yang berada di sekitar saya, tetapi lebih pada menjaga keaslian jawaban saya sendiri. Dan tidak peduli bagaimana yang lain mendapatkan jawabannya, yang penting saya bisa menjawab sesuai dengan keadaan sebenarnya saya dalam memahami materi yang telah disampaikan. Tak ada tujuan lain yang diinginkan kecuali dapat mengetahui hasil sebenarnya dan meningkatkan prestasi selanjutnya. Mungkin dalam hal ini saya nampak terlalu idealis. Biarlah.

Meski kegiatan di kampus telah berakhir tanggal 9 Januari, saya baru pulang kampung pada tanggal 12nya. Perjalanan pulang kali ini saya memilih kereta api untuk mengantarkan ke Kediri, bersama dengan seorang teman dari Jombang. Sebenarnya, kami hendak pulang bertiga, tetapi satu orang diantara kami mengurungkan kepulangannya dan membiarkan tiket yang telah dibeli sebelumnya hangus. Tiket seharga Rp 5500 untuk perjalanan ke tempat kelahiran itu, memang tidak terlalu menimbulkan kerugian jika dihanguskan.

Meski saya dan teman saya kali ini membawa tiket tanpa tempat duduk, kami tetap saja bisa duduk di tempat yang belum ada pemiliknya. Tentunya bukan dengan santai, karena sebentar-sebentar kami juga was-was jika yang punya tempat duduk sebenarnya, telah ada. Rasa was-was kami selalu muncul ketika kereta menaikkan penumpang di stasiun yang dilewatinya. Wajar saja rasa seperti ini muncul, karena sebelumnya saya pernah benar-benar harus berdiri di sepanjang perjalanan dari Jombang sampai Surabaya sesuai dengan tiket yang saya miliki, karena sang pemilik tempat duduk telah datang. Meski  begitu kami tetap menikmati perjalanan kali ini. Saya memang sudah begitu merindukan orang-orang di rumah setelah satu bulan lebih tidak pulang kampung.

Berjumpa kembali dengan, ibu, bapak dan adik-adik di rumah setelah lama tak bertemu terasa begitu membahagiakan. Meski begitu ada sedikit rasa kaget dari mereka karena tanggla 15 nya nanti saya harus kembali lagi ke Surabaya karena ada janji dengan teman untuk ikut pertunjukan teater di Surabaya Town Square yang yang latihannya dimulai tanggal tersebut. Meski tak sering di rumah insyaAllah tidak akan mengurangi bhakti saya pada ibu bapak di rumah. Karena tanpa mereka mustahil saya menjadi orang yang seperti sekarang ini. Dari mereka lah semangat saya untuk sungguh-sungguh belajar, tumbuh.

Nafisatul Husniah

Surabaya, 13 Januari 2014

Catatan Mingguan (30 Desember 2013 – 5 Januari 2014)

Gambar           Minggu inilah pekan UAS bagi seluruh mahasiswa di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi termasuk didalamnya Prodi Psikologi dimana saya berada. Meski telah terbit kalender akademik dari kampus yang didalamnya juga sudah tercantum jadwal tanggal pelaksanaan UAS, nampaknya fakultas mempunyai kebijakan tersendiri terkait pelaksanaan UAS. Hal ini bisa dilihat dri perbedaan tanggal pelaksanaan UAS dari masing-masing fakultas yang ada. Akhirnya, ketika hampir semua mahasiswa UINSA packing untuk pulang kampung, kami masih setia mengunjungi kampus setiap pagi untuk melaksanakan agenda akhir semester ini.

UAS kali ini berbeda. Ya, jika dibandingkan dengan UAS semester lalu dan UAS fakultas lain. Hampir menyerupai UAS SMP, katanya, atau malah ada yang menyebutnya Tes CPNS. Jika UAS yang dulu lebih fleksibel, waktunya terserah dosen mau melaksanakan dimana, dengan cara dan tempat yang dikehendakinya, sekarang tidak. UAS harus dilaksanakan sesuai jadwal baik waktu maupun tempatnya dengan bentuk soal berupa lembar soal tertulis ditambah lagi adanya pengawas ruangan yang setia menemani kami para mahasiswa mengerjakan soal yang diberikan sampai selesai. Dengan model UAS seperti ini sebenarnya mahasiswa nampak lebih diperhatikan dan memang terasa lebih tertata daripada UAS sebelum-sebelumnya. Tapi ada juga yang memberikan komentar, masak mahasiswa UAS nya begitu, seperti anak SMP. Mungkin ya, nampaknya seperti anak SMP, tapi bukankah lebih baik anak SMP jika mereka lebih bisa menjaga kejujurannya. J

Di Minggu ini pula saya bersama teman-teman Aliansi Mahasiswa Bidikmisi (AMBISI) mendapatkan kunjungan silaturrahin dari Saung Riung Bidikmisi UIN Bandung. Di tahun sebelumnya mereka pun juga mengadakan agenda serupa. Banyak persiapan yang telah dilakukan dan tidak sedikit pula yang mendadak dipersiapkan. Meski begitu, Alhamdulillah acara tetap berlangsung dengan baik meskipun banyak kekurangan terlihat di sana-sini. Banyak hal yang kami diskusikan ketika itu, meliputi permasalahan-permasalahan yang kami hadapi dan kontribusi mahasiswa Bidikmisi untuk Indonesia kedepannya. Kami sadar bahwa uang yang kami gunakan untuk biaya belajar di perguruan tinggi sekarang ini bersumber dari uang rakyat, maka sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk mengembalikan uang tersebut kepada rakyat Indonesia. Dan tidak ada cara lain yang bisa dilakukan sekarang kecuali ungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, sehingga nanti bisa menjadi orang yang mampu mengabdi kepada rakyat.

Selanjutnya akhir tahun kali ini saya nikamti bersama dengan teman-teman Laskar Ambisius bertempat di RMD LA. Banyak sekali pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan dari mereka yang kerap hadir di sekitar saya dari malam hingga pagi menjelang ketika itu. Jika mereka di luar mengisi perantian tahun dengan pesta besar yang begitu mewah, maka kami di sini lebih memilih untuk melakuakn agenda refleksi kehidupan selama tahun 2013. Dari agenda inilah bertebaran pelajaran-pelajaran berharga dari masing-masing kami. Tak lupa juga kami memanfaatkan pergantin tahun ini untuk kembali menancapkan dengan kuat mimpi-mimpi yang pernah kami ikrarkan sebelumnya. Tak ada harpan lain dari semua ini kecuali perbaikan kehidupan di tahun 2014. Usaha untuk lebih baik dari hari-hari sebelumnya ters kami lakuakan demi kebaikan hidup.

Nafisatul Husniah,

Kediri, 15 Januari 2014

Catatan Mingguan (23 – 29 Desember 2013)

Catatan Mingguan (23 – 29 Desember 2013)

Oleh Nafisatul Husniah

Minggu ini merupakan pekan tugas UAS bagi saya, karena ada beberapa tugas yang harus segera diselesaikan. Mulai dari laporan validitas & reliabilitas Psikometri, analisis kasus Psikologi Sosial, dan proposal penelitian Metode Penelitian Kuantitatif, saya menjadwalkan sebelum tanggal 31 Desember semua harus selesai. Berlama-lama di depan laptop untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut sesekali ternyata membuat diri merasa begitu jenuh, sehingga memilih untuk melakukan hal lain dari tugas tersebut. Hal lain yang saya pilih kali ini justru menonton film drama korea bersama teman-teman, yang bagi saya memiliki banyak sekali muatan humor. Tetapi rupanya pilihan saya itu tidak mengistirahatkan mata, sehingga beberapa waktu nampak terbuang sia-sia tanpa adanya hasil yang nyata.

Meski drama korea tersebut bukan pilihan yang benar-benar tepat namun ada beberapa pelajaran yang dapat saya ambil. Diantaranya dari sikap yang diperankan, seseorang dalam menjalankan hidupnya harus memiliki prinsip yang dipegang teguh. Dengan prinsip tersebut dia tidak akan mudah terpengaruh oleh orang-orang lain di sekitarnya. Selain itu manusia harus mempunyai nilai dalam dirinya, baik nilai agama, kesopanan maupun adat istiadat. Tanpanya orang lain tidak akan mungkin menghargainya sebagai manusia yang hidup di muka bumi. Alhamdulillah, meskipun beberapa kali saya menonton, tidak ada satupun tokoh yang kmudian benar-benar saya idolakan seperti remaja-remaja pada umumnya.

Di Minggu ini pula disela-sela berlembar-lembar tugas yang harus diselesaikan saya sempat juga melihat tayangan perdana Laskar Pelangi sekuel 2 yang ceritanya diambil dari novel Edensor karya Andrea Hirata. Kebetulan dari tentralogi Laskar Pelangi hanya satu inilah yang belum saya baca. Seperti biasanya dengan mengambil jam malam yaitu pukul 21.00 dengan teman-teman di kontrakan saya menyaksikan film tersebut di bioskop City Tomorow (Cito).

Karena sama sekali belum membaca novelnya saya tidak bisa memberikan perbandingan antara film tersebut dengan novelnya. Meski begitu, entah kenapa saya merasa kecewa dengan film dari novel Andrea Hirata kali ini. Mungin karena yang dikisahkan cenderung pada percintaan Ikal yng nampaknya kurang begitu penting. Namun tetap saja ada rasa senang karena mengambil lokai shooting di Eropa. Lagi-lagi Eropa selalu menarik hati untuk dikunjungi.

Selesai semua aktivitas menonton itu, saya kembali pada aktivitas awal yakni, mengerjakan lembaran-lembaran tugas untuk UAS yang tinggal beberapa hari lagi. Harus segera selesai! 🙂Gambar

Kediri, 12 Januari 2014